Jangan suka mem-beo
Oleh :Gatut Wiyono
Menkeu baru-baru ini mensinyalir adanya sindikat pajak kelas kakap. Ada sekitar 100 perusahaan besar, plus sekian konsultan pajak dan biro jasa yang ikut merasakan nikmatnya madu pajak. Mereka beramai- ramai dengan kesadaran dan kondisi waras selama berbulan-bulan bahkan tahun merubah angka-angka PPN . Sehingga pajak pertambahan nilai tersebut menjadi tidak sesuai dengan transaksi yang sebenarnya. Mereka semua tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah tetapi mereka melakukan karena atasan mereka yang menyuruh atau mengijinkannya. Perilaku seperti ini kami sebut dengan perilaku burung beo. Komunitasnya disebut komunitas burung beo dan penghalalan praktek ini disebut beonisasi. Komunitas seperti ini merugikan negara trilunan rupiah.
Di Amerika pada pertengahan tahun 2002 pernah terjadi skandal akuntasi yang menghebohkan. Konon Penipuan akuntasi WorldCom sebesar US$11 billion adalah skandal akuntasi terbesar dalam dunia bisnis. Manipulasi itu telah berjalan bertahun-tahun dengan sepengetahuan para pegawai, auditor, direktur WorldCom. Sebuah rekayasa yang cerdik telah dilakukan oleh para pimpinan puncak perusahaan. Dengan demikian perusahaan ini telah berhasil menutup-nutupi kerugian perusahaan dari hadapan investor dan analis Wall Street. Penipuan data akuntasi ini terjadi berkali-kali, terlihat mata telanjang oleh hampir setiap pegawai . Divisi finasial dan akuntasi menyadari kesalahan itu tetapi mereka seperti tidak ada keberanian untuk mengungkapkan borok tersebut.
Di Negeri kita , Aksi mafia pajak disinyalir terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan. Kebanyakan dari kasus penyelewengan pajak tidak terjadi secara sendiri. Banyak orang yang terlibat, tentu dimulai dari satu dua orang yang meraambet kemana-mana. Mengapa mereka tidak melaporkan kasus? Mereka memilih diam dan taat pada ”aturan main” Pernyataan ketidak setujuan dengan ”permainan” tersebut dapat mengakibatkan kemarahan pimpinan. Ketakutan kepada pimpinan perusahaan atau otoritas seseorang, membuat orang dapat melakukan apa saja walaupun itu keliru.
Beonisasi. Meskipun manusia memiliki kemampuan untuk membuat pilihan moral namun seringkali kemampuan itu dapat menjadi mandul dihadapan pemimpin yang sangat dominan. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat sebuah fenomena pembeoan . Pembeoan ini tidak masuk kedalam level extrim. Misalnya dalam berinteraksi dengan Polisi, rohaniawan, sesepuh,supervisor, manajer. Kita cenderung menyimpan suara kita selain hanya mengiayakan saja.
Dalam banyak kasus orang-orang merasa aman menjadi seperti burung beo. Mereka berpikir bukankah yang memberi perintah itu adalah orang saleh, atau pimpinan yang memang memiliki otoritas? Kalau pimpinan menyuruh mengubah angka ya dirubah saja. Kalau ketua mengatakan bakar! Ya bakar saja!
Pembenaran diri. Kebanyakan koruptor bersikap baik kepada keluarga dan sanak family. Ketika ”rejeki” dibagi-bagikan kepada sanak family, terucap kata-kata terimakasih yang menggema, pujian yang tak putus-putus. Sang koruptor merasa terobsesi untuk melakukan ”kebaikan” terus menerus . Perasaam telah menjadi pahlawan ini menjadikan alasan pembenaran diri. Konon istri salah satu makelar kasus yang hanya pegawai negeri golongan III A mendapat kiriman sebesar Rp 3,6 M dari suaminya. Ketika penyidik menanyakan untuk apa uang itu dijawab bahwa itu adalah uang belanja! Sang istripun ikut membenarkan bahwa suaminya begitu baik hati. Inilah komunitas burung beo dalam lingkungan kecil di rumah tangga.
Bahaya laten Pada tahun 1970 Jim Jones berhasil membawa ”komunitas beo” sebanyak 914 orang ke tengah hutan di Guyana. Tanpa perlawanan dan perbantahan orang-orang mau menerima perintah meminum racun cyanide. Mereka tewas dengan sangat mengenaskan dalam ketaatan atas beonisasi bapak Jones
”Komunitas burung beo” merupakan bahaya laten. Proses itu akan mematikan moralitas secara perlahan, gradual tetapi pasti. Ikut-ikutan orang dan tunduk pada otoritas yang membabi buta akan membuat rasa tanggung jawab pribadi seseorang menipis!